Fort de Kock dari Kampementslaan ke Jalan Sudirman

Oleh: Hasan Achari Harahap

Melintasi Jalan Jendral Sudirman di Bukittinggi hari ini, rasanya berbeda dari hari-hari sebelumnya. Sejumput informasi tentang masa lalu Fort de Kock seolah menarik imajinasi saya lebih jauh. Meski tata kota Bukittinggi telah banyak berubah seiring zaman, beberapa bangunan tua yang masih berdiri tegak tetap menjadi penanda bisu akan sebuah masa dimana kolonial Belanda hadir di Nusantara, tak lain demi ambisi mengeruk kekayaan alam yang tersimpan di negeri ini.

Berbekal peta pemerintah Belanda tahun 1945 yang saya peroleh dari arsip Universitas Leiden, rasa penasaran itu kian memuncak. Saya membandingkan garis-garis jalan dalam peta dengan realita di hadapan saya sekarang. Meski banyak bangunan di sepanjang Jalan Jendral Sudirman yang kini telah berganti wajah atau beralih fungsi, nyatanya masih ada beberapa struktur yang tetap setia menjalankan tugasnya sejak masa kolonial hingga detik ini. Keberadaan bangunan-bangunan yang masih ‘hidup’ tersebut seolah menjadi jembatan fisik yang menghubungkan saya langsung dengan denyut nadi kota di masa lalu.

Suasana Jalan Jendral Sudirman Di Kota Bukittinggi yang dulu bernama Kampementslaan

Salah satu yang mencuri perhatian saya adalah Kantor Pos Bukittinggi. Di peta, ia ditandai dengan fungsi yang sama persis. Berdiri di depannya, saya seperti melihat dua masa yang bertumpuk; kemacetan kendaraan masa kini yang lalu-lalang, berpadu dengan ketenangan arsitektur tempo dulu yang masih menolak untuk punah. Di halaman kantor ini, perhatian saya tertuju pada sebuah kotak surat besi tua atau Brievenbus yang berdiri tenang. Benda peninggalan era Hindia-Belanda ini seolah menjadi saksi bisu bagaimana denyut komunikasi zaman dulu berdetak. Dibuat sekitar tahun 1911 hingga 1913, kotak surat ini pernah menjadi titik nadi kesibukan korespondensi, saat Bukittinggi masih dikenal dengan nama Fort de Kock.

Tak jauh dari situ, tepat di sebelah kanan Kantor Pos, terdapat bangunan tua yang fungsinya tetap terjaga hingga kini. Dalam peta lama, lokasi ini tertulis sebagai Europeesche Lagere School (ELS), sekolah yang pada masanya diperuntukkan bagi anak-anak Eropa serta kalangan pribumi dari keluarga terpandang. Hari ini, bangunan tersebut tetap setia menjalankan perannya sebagai sarana pendidikan, yakni SMPN 1 Kota Bukittinggi. Beranjak sedikit ke arah kiri kantor pos, dua bangunan setelahnya, berdiri tegak sebuah gereja Katolik atau Roman Catholic Church yang juga masih menjalankan fungsi ibadah serupa sejak era kolonial.

Jalan yang dulu dikenal dengan nama “Kampementslaan” ini memang telah banyak berubah. Kini, bangunan-bangunan baru telah berdiri dengan berbagai fungsinya, mengisi celah di antara warisan kolonial yang tersisa. Saat malam tiba, kawasan ini pun bertransformasi; diramaikan oleh anak-anak muda yang berkumpul di area yang kini dikenal sebagai Taman Digital Bukittinggi. Tidak jauh dari sana, aroma kuliner yang mengundang menyambut di Jalan Moh Syafei atau lebih dikenal jalan stasiun, sebuah lokasi yang dulunya merupakan stasiun kereta api Fort de Kock.

Menelusuri Jalan Jendral Sudirman bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah pengingat bahwa kota ini adalah saksi bisu dari ambisi dan perjuangan di masa silam. Bangunan-bangunan yang masih berdiri kokoh ini mengajarkan kita bahwa perubahan adalah keniscayaan, namun menghargai akar sejarah adalah pilihan. Bagi saya, menjaga sisa-sisa jejak Fort de Kock dengan mengabadikannya dalam bentuk tulisan merupakan langkah kecil dan sadar bahwa keberadaan hari ini tidak pernah dilepaskan dari masa lalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *